Mother's Day

Selamat hari ibu, 

Sejak dulu, sejak kecil, ucapan ini hampir ngga pernah saya ucapkan kepada ibu saya. Terhitung hanya 2 atau 3 kali, itu pun lebih kepada formalitas atau ikut-ikutan karena memang ingin sama dengan orang lain. 

Bukan tidak ingin mengucapkan sekadar selamat hari ibu kepada ibu, hanya saja rasa malu saya terlalu besar untuk mengungkapkannya.  Gengsi anak seperti saya ternyata besar juga untuk mengungkapkan hal-hal romantis kepada ibu saya tentang hubungan kami. Sekarang saja, saya menulis seperti ini, ibu saya tidak tahu hahaha. Padahal ketika merantau, sudah tidak terhitung saya menangis karena merindukan ibu.

Sejak kecil, saya selalu menempel pada ibu. Dari keempat anak ibu, hanya saya, anak keduanya yang sampai kelas 3 SMA masih saja tidur bersamanya jika papa saya sedang bekerja diluar kota. Saya baru benar-benar tidur sendiri ketika saya merantau untuk kuliah tetapi jika pulang ke rumah, saya akan tetap tidur bersama ibu saya. 

Ketiga saudara saya sejak mereka menginjak usia sekolah sudah berkelana mengikuti papa yang sering bekerja keluar kota. Entah itu ke Jawa bagian timur atau Sumatera. Sementara saya, saya anteng di rumah bersama ibu. Meskipun sekarang terkadang saya menyesalinya tidak dapat ikut berkeliling dengan papa.

Jangan bayangkan ibu saya adalah ibu rumah tangga. Ibu saya pekerja kantoran. Ibu sosok yang tegas, meskipun bawel dan selalu penuh kecemasan jika itu mengenai anak-anaknya.Kami berempat dibesarkan oleh orang tua pekerja. Papa yang sering berada di luar kota dan ibu yang pekerja kantoran. Di usia sekolah dasar, kami berempat sudah bisa melakukan pekerjaan rumah tangga karena ibu selalu membagi pekerjaan rumah tangga dengan kami. Selain agar pekerjaan ibu lebih ringan. Ibu ingin kami menjadi orang yang mandiri. Meskipun kami saat itu (sampai sekarang kalau sedang di rumah) suka ogah-ogahan tetapi ketika jauh dari orang tua, kami bisa mengurus diri kami dengan baik.

Masa kuliah adalah masa yang sulit buat saya. Saya adalah anak keras kepala, hingga akan menyusun tugas akhir, saya masih kebingungan untuk menyodorkan judul penelitian ideal saya kepada dosen. Kuliah yang seharusnya menghabiskan waktu 4-5 tahun saja, jadi molor sampai 7 tahun. Saya tahu orang tua saya kecewa, apalagi ibu saya yang mewanti-wanti untuk lulus tepat waktu. tetapi saat itu, sungguh, saya berada dalam fase terburuk dalam hidup saya. Saya bahkan tidak bisa menolong diri saya sendiri dan saya terlalu takut untuk meminta tolong kepada orang-orang terdekat saya. 

Sampai sekarang saya belum bisa memaksimalkan diri saya untuk membanggakan ibu. Tetapi satu saat, pasti, saya bisa membanggakan Ibu dan papa tentunya.

3 hari lagi saya akan dilamar lelaki yang saya sayangi selama ini. Saya pun akan merantau dengan tujuan yang berbeda. Memulai hidup baru, dengan ridho dan doa ibu tentunya. Anakmu mungkin sudah besar tetapi akan tetap menjadi putri kecil yang selalu menyayangimu, mendoakan untuk kesehatan dan kebahagianmu.

Terima kasih, sudah merelakan lebih dari separuh hidupmu untuk mengurusku padahal kita semua tahu kalau anak itu hanya titipan Tuhan yang bisa pergi kapan saja.

Terima kasih, sudah ikhlas mengurus anakmu yang bengal dan bandel, bersabar menghadapiku, selalu berdoa untuk kesehatan dan keselamatanku.

Saya bukan anak yang romantis yang bisa mengungkapkan semuanya langsung kepadamu. Tapi saya yakin, ibu mengetahui bahwa anak-anaknya sangat mencintainya.

Selamat Hari Ibu, Bu! :) :) :)  



Pages of My Life

自分に正直になりたい

0コメント

  • 1000 / 1000